LAPORAN KIMIA
TITIK BEKU
Oleh:
Bangkit wibisono
XI A 3
SMA NEGERI 1 KOTAGAJAH
LAMPUNG TENGAH
2010
I. TUJUAN
Untuk mengetahui titik beku suatu larutan dan factor yang mempengaruhinya.
II. ALAT DAN BAHAN :
Alat dan Bahan:
1. Neraca 6. Air suling
2. Tabung reaksi 7. Butian Es
3. Sendok 8. Urea (O(NH2 )2)
4. Pengaduk kaca 9. Garam dapur (NaCl)
5. Gelas kimia 250 ml 10. termometer
III. LANDASAN TEORI
Sifat koligatif larutan adalah sifat fisis larutan yang hanya tergantung pada jumlah partikel zat terlarut dan tidak tergantung dari jenis zat terlarut. Yang tergolong sifat koligatif larutan adalah:penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan tekanan osmotik dari larutan.
Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi perubahan wujud zat cair ke padat. Pada tekanan 1 atm, air membeku pada suhu 0 °C karena pada suhu itu tekanan uap air sama dengan tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku (Δ Tf = freezing point depression). Pada percobaan ini ditunjukkan bahwa penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan. Oleh karena itu, penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
Larutan yang mudah mengion(elektrolit) akan mempunyai titik beku lebih rendah dari pada larutan non elektrolit, karena larutan elektrolit akan terurai sehingga partikelnya pun akan lebih banyak dari pada non elektrolit, sehingga larutan elektrolit mempunyai sifat koligatif lebih besar dari pada non elektrolit (Erlangga, 2007
Rumus untuk mencari penurunan titik beku larutan adalah sebagai berikut:
Dimana m = Keterangan:
: Penuruan titik beku
m : Molalitas larutan
Kf : Tetapan penurunan titik beku molal
g : Massa zat terlarut
p : Massa zat pelarut
III. LANGKAH KERJA
1. Membuat larutan-larutan di bawah ini dengan menggunakan 20 ml air untuk setiap larutan:
Larutan 1 : 1,20 gr urea
Larutan 2 : 2,40 gr urea
Larutan 3 : 1,17 gr garam dapur
Larutan 4 : 2,34 gr garam dapur
2. Memasukkan butiran-butiran es kecil ke dalam gelas kimia sampai kira-kira tiga perempatnya dan menambahkan 8 sendok makan garam dapur, kemudian diaduk (ini adalah campuran pendingin).
3. mengisi tabung reaksi dengan air setinggi +2 cm. memasukkan tabung tersebut ke dalam campuran pendingin, dan mengaduk dengan pengaduk naik turun sampai air membeku seluruhnya.
4. Mengangkat tabung reaksi, kemudian mengganti pengaduk dengan thermometer dan ukur suhu saat kesetimbangan cair dan es.
5. Mengulangi langkah 3 dan 4 dengan larutan-larutan yang anda buat pada langkah 1 sebagai pengganti air.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
No. Zat terlarut Perbedaan titik beku
Rumus Massa Mol Kemolalan Air Larutan
1 CO(NH2)2 1,20gr 0,02 1 0°C -2,0°C 2,0°C
2 CO(NH2)2 2,40gr 0,04 2 0°C -4,0°C 4,0°C
3 NaCl 1,17gr 0,02 1 0°C -4,0°C 4,0°C
4 NaCl 2,34gr 0,04 2 0°C -6,0°C 6,0°C
2. Pembahasan
Dari data di atasdapat diketahui bahwa pada kemolalan yang sama, larutan elektrolit (NaCl) memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan larutan non elektrolit {CO(NH2)2}. Hal ini dikarenakan, larutan elektrolit memiliki sifat koligatif larutan, yaitu kenaikan titik didih dan penurunan titik beku yang lebih besar dari pada larutan non elektrolit pada konsentarsi yang sama. Selain itu, suatu zat elektrolit akan mengalami disosiasi (penguraian) menjadi ion-ion (anion kation) dalam larutan. Garam dapur (NaCl) merupakan zat elektrolit, dan di dalam larutan NaCl akan mengalami ionisasi menjadi Na+ dan Cl-. Sedangkan urea CO(NH2)2 merupakan zat elektrolit yang dalam larutannya terdiri dari molekul-molekul urea dengan konsentrasi tetap. Oleh karena larutan elektrolit mengalami ionisasai, sehingga memiliki jumlah partikel yang lebih banyak dari pada larutan non elektrolit, maka sifat koligatif NaCl berbeda dengan sifat koligatif CO(NH2)2 .
Maka 0,1 mol NaCl dalam larutan akan terurai menjadi 0,2 mol partikel (ion) dengan persamaan reaksi : NaCl(aq) —> Na+(aq) + Cl –(aq).
Selain itu, diperoleh juga bahwa NaCl 1molal memiliki titik beku -4,00C dan penurunan titik beku 4,0 0C. sedangkan NaCl 2molal memiliki titik beku -6,00C dan penurunan titik beku 6,00C.
Dimana hal tersebut menandakan bahwa semakin besar kemolalan suatu larutan maka semakin rendah titik beku larutannya dan semakin besar penurunan titik bekunya.
Diketahui juga bahwa air memiliki titik beku terbesar dari semua larutan. Ini dikarenakan sebagian partikel air dan sebagian partikel – partikel terlarut membentuk ikatan baru. Penambahan zat terlarut dalam pelarut akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi yang mengakibatkan semakin rendah titik bekunya.
V. ANALISIS DATA
1. Titik beku larutan lebih rendah daripada titik beku pelarut murni. Hal ini disebabkan zat pelarutnya harus membeku terlebih dahulu, baru zat terlarutnya. Jadi larutan akan membeku lebih lama daripada pelarut. Setiap larutan memiliki titik beku yang berbeda.
2. Pengaruh kemolalan urea terhadap :
a) Titik beku larutan
Semakin tinggi kemolalan urea, semakin rendah titik bekunya
b) Penurunan titik beku larutan
Semakin tinggi kemolalan maka semakin besar perbedaan penurunan titik beku karena kemolalan sebanding dengan penurunan titik beku
3. Pengaruh kemolalan NaCl terhadap :
a) Titik beku larutan
Semakin tinggi kemolalan NaCl, semakin rendah titik bekunya karena larutan NaCl merupakan larutan elektrolit sehingga terurai atas ion - ion
b) Penurunan titik beku larutan
Semakin tinggi kemolalan NaCl, semakin besar penurunan titik bekunya karena selain dipengaruhi kemolalan, penurunan titik beku juga dipengaruhi oleh jenis larutannya elektrolit atau non elektrolit.
4. Pengaruh larutan NaCl dibandingkan dengan pengaruh larutan urea terhadap :
a) Titik beku larutan
Pada kemolalan yang sama, titik beku larutan elektrolit (NaCl) lebih rendah daripada larutan non elektrolit (urea)
b) Penurunan titik beku larutan
Pada kemolalan yang sama, penurunan titik beku larutan elektrolit (NaCl) lebih besar daripada larutan non elektrolit
VI. Kesimpulan dan Saran :
Kesimpulan:
1. Titik beku larutan lebih rendah dari titik beku pelarut murni.
2. Semakin besar kemolalan suatu larutan, semakin rendah titik beku larutan. Maka selisih titik beku semakin besar
3. Larutan elektrolit memiliki titik beku lebih rendah dibanding larutan nonelektrolit.
4. Penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
5. Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi peristiwa perubahan wujud zat cair ke padat.
6. Penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentarsi partikel dalam larutan.
7. Semakin banyak partikel (mengion) semakin besar sifat koligatif.
Saran
1. Agar lebih teliti dalam mengamati angka pada thermometer agar hasilnya lebih benar
2. Lebih cermat dalam menimbang garam dapur dan urea agar kita memperoleh hasil yang sesuai.
3. Sebaiknya dalam mengukur suhu menggunakan thermometer yang lebih objektif.
Blog Archive
Mengenai Saya
- bangkit
- aku sih orangnya suka bercanda, tapi kadang keterlaluan, heeeeeeeee............
Pengikut
Jumat, 03 September 2010
Jumat, 23 Juli 2010
Minggu, 18 April 2010
CERPEN NEIH
“assalamualaikum.. along, angah, adik, bangun.. subuh dah ni..” Mak memberi salam dan mengetuk pintu untuk mengejutkan Si Tiga Beradik seperti biasa.
“eh? tak berkunci pintu ni..” getus hati Mak kehairanan lalu menguak pintu bilik kayu itu.
“ASSALAMUALAIKUM MAK! SELAMAT PAGI! SELAMAT HARI IBU!” teriak Si Tiga Beradik serentak, memecah sunyi pagi subuh itu. Mak yang masih di muka pintu tersenyum lalu mendekati Si Tiga Beradik dan memeluk mereka.
“terima kasih.. sayang anak-anak mak..” Mak meluahkan rasa hatinya kepada Si Tiga Beradik, namun hanya Allah sahaja yang mengetahui perasaan dan kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya.
Melihatkan anak-anaknya dah bangun, mak pun kemudiannya berlalu pergi untuk menunaikan solat subuh. Si Tiga Beradik memandang sesama sendiri sambil mengenyitkan mata.
“MISI SUPRISE BERJAYA!” serentak lagi teriakan mereka sambil menunjukkan ibu jari masing-masing.
***
Selesai solat subuh secara berjemaah, Si Tiga Beradik masuk ke bilik. Abah juga terus bangun meninggalkan sejadah. Mungkin ada kerja yang ingin dilakukan. Namun, Mak seperti biasa tidak berganjak dari kain sejadahnya dan masih dalam telekung putih yang dihadiahkan oleh Si Tiga Beradik setahun yang lepas.
Tidak lama kemudian kedengaranlah alunan ayat-ayat suci al-Quran oleh suara merdu Mak. Dibaca ayat demi ayat dengan penuh khusyu’, tadabbur, dan bertajwid. Dan seperti kebiasaannya, alunan merdu yang menghiasi seisi rumah itu ditamatkan tatkala jam menunjukkan pukul 7 pagi.
“sodaqallahul azim..” Mak menamatkan bacaannya dengan iringan ‘alarm clock’ yang berbunyi sebanyak tujuh kali. Selepas melipat kain telekungnya, Mak bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Suasana pagi masih belum terang. Matahari masih belum naik. Mak memetik suis menghidupkan lampu dapur yang dalam kesamaran.
“SARAPAN DAH SIAP!” tiba-tiba Si Tiga Beradik muncul. Dapur menjadi terang benderang. Si Tiga Beradik tercongok di tepi meja makan sambil menunjukkan ke arah meja. Mak yang tadinya terkejut dengan teriakan Si Tiga Beradik mengalihkan pandangannya ke meja. Beberapa pinggan kuih muih sudah terhidang di atas meja. Satu jag air teh pun telah siap dibancuh.
“jom makan, sayang..” Abah pula tiba-tiba muncul di belakang Mak dan memegang bahu Mak lembut. Abah memimpin tangan Mak ke meja bagaikan raja yang mengiringi permaisurinya ke meja santapan. Romantik sungguh. Mak tersenyum lagi. Hampir-hampir matanya berkaca-kaca. Namun keterharuan itu diluahkan dengan lisan penghargaan.
“terima kasih, bang..” sambil Mak mendakap Abah. “terima kasih along, angah, adik..” Mak mengusap kepala Si Tiga Beradik pula.
*******
Si Along memberhentikan lamunannya. Kalau boleh plot di atas yang dirancangnya tadi dapat dijayakan bersama-sama Si Angah dan Si Adik pada Hari Ibu esok. Tapi....
***
Si Angah meletakkan pen dan merenung kertas di hadapannya. Kalau boleh cerita di atas yang ditulisnya dapat menjadi kenyataan pada Hari Ibu esok bersama-sama dengan Si Along dan Si Adik. Tapi....
***
Si Adik terjaga daripada tidurnya. Kalau boleh mimpinya di atas tadi dapat menjadi realiti pada Hari Ibu esok bersama-sama Si Along dan Si Angah. tapi....
***
Tapi.... Si Tiga beradik sedar. Apa yang dilamunkan bukanlah untuk Hari Ibu esok. Tapi Hari Ibu yang lepas-lepas. Apa yang ditulis bukanlah cerita untuk Hari Ibu esok. Tapi Hari Ibu yang lepas-lepas. Apa yang dimimpikan pun bukanlah realiti untuk Hari Ibu esok. Tapi Hari Ibu yang lepas-lepas.
Kini.. Si Tiga Beradik sedar. Tiada lagi layanan dan hadiah Hari Ibu yang dapat mereka berikan. Hanya satu sahaja tanda kasih sayang dan terima kasih mereka kepada Mak yang dapat mereka buktikan. Hanyalah dengan menjadi anak-anak yang soleh yang tidak kan pernah lupa untuk terus mendoakan ibu mereka di sana.
Si Tiga Beradik berpandangan sesama sendiri, dengan mata yang berkaca, dan dengan suara yang tersekat-sekat menahan kesedihan mereka berdoa.... Ya Allah, rahmatilah ibu kami!
“eh? tak berkunci pintu ni..” getus hati Mak kehairanan lalu menguak pintu bilik kayu itu.
“ASSALAMUALAIKUM MAK! SELAMAT PAGI! SELAMAT HARI IBU!” teriak Si Tiga Beradik serentak, memecah sunyi pagi subuh itu. Mak yang masih di muka pintu tersenyum lalu mendekati Si Tiga Beradik dan memeluk mereka.
“terima kasih.. sayang anak-anak mak..” Mak meluahkan rasa hatinya kepada Si Tiga Beradik, namun hanya Allah sahaja yang mengetahui perasaan dan kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya.
Melihatkan anak-anaknya dah bangun, mak pun kemudiannya berlalu pergi untuk menunaikan solat subuh. Si Tiga Beradik memandang sesama sendiri sambil mengenyitkan mata.
“MISI SUPRISE BERJAYA!” serentak lagi teriakan mereka sambil menunjukkan ibu jari masing-masing.
***
Selesai solat subuh secara berjemaah, Si Tiga Beradik masuk ke bilik. Abah juga terus bangun meninggalkan sejadah. Mungkin ada kerja yang ingin dilakukan. Namun, Mak seperti biasa tidak berganjak dari kain sejadahnya dan masih dalam telekung putih yang dihadiahkan oleh Si Tiga Beradik setahun yang lepas.
Tidak lama kemudian kedengaranlah alunan ayat-ayat suci al-Quran oleh suara merdu Mak. Dibaca ayat demi ayat dengan penuh khusyu’, tadabbur, dan bertajwid. Dan seperti kebiasaannya, alunan merdu yang menghiasi seisi rumah itu ditamatkan tatkala jam menunjukkan pukul 7 pagi.
“sodaqallahul azim..” Mak menamatkan bacaannya dengan iringan ‘alarm clock’ yang berbunyi sebanyak tujuh kali. Selepas melipat kain telekungnya, Mak bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Suasana pagi masih belum terang. Matahari masih belum naik. Mak memetik suis menghidupkan lampu dapur yang dalam kesamaran.
“SARAPAN DAH SIAP!” tiba-tiba Si Tiga Beradik muncul. Dapur menjadi terang benderang. Si Tiga Beradik tercongok di tepi meja makan sambil menunjukkan ke arah meja. Mak yang tadinya terkejut dengan teriakan Si Tiga Beradik mengalihkan pandangannya ke meja. Beberapa pinggan kuih muih sudah terhidang di atas meja. Satu jag air teh pun telah siap dibancuh.
“jom makan, sayang..” Abah pula tiba-tiba muncul di belakang Mak dan memegang bahu Mak lembut. Abah memimpin tangan Mak ke meja bagaikan raja yang mengiringi permaisurinya ke meja santapan. Romantik sungguh. Mak tersenyum lagi. Hampir-hampir matanya berkaca-kaca. Namun keterharuan itu diluahkan dengan lisan penghargaan.
“terima kasih, bang..” sambil Mak mendakap Abah. “terima kasih along, angah, adik..” Mak mengusap kepala Si Tiga Beradik pula.
*******
Si Along memberhentikan lamunannya. Kalau boleh plot di atas yang dirancangnya tadi dapat dijayakan bersama-sama Si Angah dan Si Adik pada Hari Ibu esok. Tapi....
***
Si Angah meletakkan pen dan merenung kertas di hadapannya. Kalau boleh cerita di atas yang ditulisnya dapat menjadi kenyataan pada Hari Ibu esok bersama-sama dengan Si Along dan Si Adik. Tapi....
***
Si Adik terjaga daripada tidurnya. Kalau boleh mimpinya di atas tadi dapat menjadi realiti pada Hari Ibu esok bersama-sama Si Along dan Si Angah. tapi....
***
Tapi.... Si Tiga beradik sedar. Apa yang dilamunkan bukanlah untuk Hari Ibu esok. Tapi Hari Ibu yang lepas-lepas. Apa yang ditulis bukanlah cerita untuk Hari Ibu esok. Tapi Hari Ibu yang lepas-lepas. Apa yang dimimpikan pun bukanlah realiti untuk Hari Ibu esok. Tapi Hari Ibu yang lepas-lepas.
Kini.. Si Tiga Beradik sedar. Tiada lagi layanan dan hadiah Hari Ibu yang dapat mereka berikan. Hanya satu sahaja tanda kasih sayang dan terima kasih mereka kepada Mak yang dapat mereka buktikan. Hanyalah dengan menjadi anak-anak yang soleh yang tidak kan pernah lupa untuk terus mendoakan ibu mereka di sana.
Si Tiga Beradik berpandangan sesama sendiri, dengan mata yang berkaca, dan dengan suara yang tersekat-sekat menahan kesedihan mereka berdoa.... Ya Allah, rahmatilah ibu kami!
Langganan:
Postingan (Atom)
About Me
- bangkit
- lampung tengah, lampung, Indonesia
- aku sih orangnya suka bercanda, tapi kadang keterlaluan, heeeeeeeee............
pengikut
Category
- Romantis (1)